Langsung ke konten utama

Berburu Ilmu dalam Roadshow Buku ‘Rumah Tangga’ karya Fahd Pahdepie


    Minggu, 20 September 2015
   
Jam 7 pagi ini, tumbenan ‘tugas negara’ sudah kelar. Alhamdulillah. Anak-anak masih bergelung di bawah selimut. Sedangkan suami tengah bersiap-siap untuk ikut seminar haji dan umroh di hotel Grand Saraswati.
    “Pulang jam berapa, bi?” tanya saya. Geli juga, berangkat saja belum tapi udah ditanyain pulang.
    “Insya Allah selepas duhur.”
    Saya lega. Itu berarti saya bisa menjalankan agenda yang sudah saya persiapkan sebelumnya.
    “Iya deh. Nanti kalau abi capek, biar aku berangkat sendiri,” kata saya.
    Ya, begitulah. Weekend bagi keluarga kami, tak selalu identik dengan liburan atau kerja bakti beberes rumah bareng, ataupun main seharian bersama pasangan dan anak-anak. Ada kalanya saya harus berangkat kajian pagi-pagi sekali, hingga suami yang memasak dan memandikan anak-anak. Ada kalanya, suami pergi dari pagi hingga sore hingga saya ‘rela’ menghabiskan waktu di rumah saja. Pernah kami bertemu sebentar, lalu berpisah lagi. Saya kadang berpikir, betapa enaknya pasangan yang bisa liburan sekeluarga ke luar kota, atau sekalipun hanya liburan di rumah.
    “Tapi itulah seni dalam rumah tangga,” hibur saya, hehe.
    Dan setelah suami pulang, saya sempat menyimak ilmu-ilmu yang ditularkan pada saya. Kami diskusi sebentar sembari saya bersiap pergi. Tak lupa saya memberikan pengertian kepada anak-anak, bahwa ummi mau belajar. Nanti sore ummi pulang dan kita semua akan berkumpul lagi. Insya Allah. (biasanya mereka protes dan hendak ikut serta, tapi kali ini mereka mengerti. Terima kasih, nak). Terima kasih juga buat suami tercinta yang selalu memberikan kesempatan bagi saya untuk terus belajar, mengembangkan diri, dan meraih impian bersama. Kami memang sedang dan akan terus berjuang bersama, dalam keadaan apapun. Insya Allah.
    “Dah ummi. Begitu selesai, cepat pulang ya.” Suami dan anak-anak melambaikan tangan. Saya balas lambaian tangan itu. Ini termasuk me-time bagi ibu-ibu rempong macam saya yang sehari-hari terbiasa digelendoti bocah-bocah kemanapun pergi. Ihik.


    Sepanjang perjalanan Unnes-Pandanaran, saya berdoa agar Allah memberkahi dalam setiap langkah. Semoga Dia menjaga keluarga saya dengan sebaik-baik penjagaan.
    Alhamdulillah, jam 2 siang lebih sedikit, saya sudah sampai di Gramedia Pandanaran tempat roadshow berlangsung. Pas dimulai, so beruntung saya tak ketinggalan materi.
    Ini kenapa prolognya panjang banget yah. Pembaca jadi bosen pastinya, Xixi. Oke deh. Inilah poin-poin talkshow buku ‘Rumah Tangga’ yang berhasil saya liput 
1.    Buku ‘Rumah Tangga’ yang diterbitkan oleh Penerbit Pandamedia adalah kumpulan kisah tentang rumah tangga. Buku ini tidak membagikan tips-tips berumah tangga yang ideal ataupun kiat-kiat teknis dalam berumah tangga. Tiap pasangan selayaknya terus belajar dan berproses dalam membina rumah tangga. Buku ini hadir untuk berbagi perspektif kepada pembaca tentang seputar kerumahtanggaan.
2.    Bagi calon pengantin yang hendak menikah, pasti banyak kegalauan. Banyak bayangan dan harapan yang berkelebat, tumpang tindih ditingkah rasa takut, cemas, dan berdebar juga. Iya kan? (hihi bener banget. Soalnya saya pernah ngalamin). Kata bang Fahd, bayangkan saja ketika kita mau naik roller coaster. Kita sudah duduk di bangkunya. Bersebelahan dengan pasangan kita. Lalu apa yang kita rasakan? Tegang? Excited? Cuek saja? Atau campur aduk? Dan ketika sabuk keselamatan telah dipasang, apakah ada yang menjamin kita benar-benar siap?
Lalu, di detik-detik berikutnya, roller coaster meluncur pelan, kencang, lalu bertambah kecepatan, menikung tajam, jungkir balik, lalu landai lagi, bagaimana perasaan kita? Ya, ada kalanya saat perjalanan itu, berbagai ekspresi muncul. Ada yang berteriak, histeris, memejamkan mata, atau berpegangan tangan dengan pasangan. Bahkan ketika turun dari roller coaster itu, tak ada yang menjamin kalau kita bakalan baik-baik saja kan? Kuncinya apa? Yakin dan saling percaya terhadap pasangan. Itulah roller coaster pernikahan yang seru, mendebarkan dan banyak tantangan.
3.    Bagi kita yang belum menikah, akan menikah, ataupun sudah menikah penting menanamkan sikap positive thinking, bahwa pernikahan adalah untuk mendewasakan, untuk berbagi, belajar bertanggung jawab. Masukkan ke alam bawah sadar bahwa sesulit apapun masalah yang dihadapi, semua bisa diupayakan dan dicarikan solusi. Kata bang Fahd lagi, Allah itu Maha Oke. Misalnya ketika kita meminta dalam doa-doa, ‘Ya Allah, aku ingin naik haji sama istri di usia sebelum 30 tahun’. Lalu Allah menjawab,’oke. 30 tahun’. “Eh, tapi ongkos naik haji kan mahal ya. Nunggunya belasan tahun, lagi.” Allah pun  menjawab, ‘oke. Belasan tahun lagi.’ Hehe. Saatnya merevisi doa kita juga. Saya jadi ingat kata bang Ippho Santosa dalam ‘7 keajaiban rezeki’ tentang ‘Sepasang Bidadari’ yang akan membuat doa kita lebih ‘bersayap’.
4.    Tidak ada rumah tangga yang tanpa konflik. Yang terpenting adalah manajemen konflik.
Rumah tangga adalah bukan tentang suami, tentang istri, ataupun tentang anak-anak. Tetapi rumah tangga adalah kesemuanya. Konsepnya harus ‘kebersamaan’ jadi tidak ada yang merasa ‘lebih tinggi’. Kadangkala banyak orangtua yang bilang, “tidak apa-apa kita begini, ma/pa. yang terpenting anak-anak bahagia. “ ups! Alangkah baiknya kalau kalimat tadi kita revisi, “Kita harus bahagia bersama-sama.” Tidak ada anggota keluarga yang tertindas, terintimidasi, dan merasa tertekan. Kalau konsep kebersamaan kita pegang, maka kita akan bekerja dan berjuang bersama-sama untuk mewujudkannya (subhanallah, begitu melegakan rasanya #NgelapAirmata)
5.    Ini tentang jodoh. Ciee. Bisa jadi ini ada kaitannya dengan falling in love alias jatuh cinta. Ehem! Jatuh cinta adalah proses tidak sadar lho. Kenapa? Karena jatuh cinta adalah fenomena banjir hormon. Hormon bahagia (endorphin dan oksitoksin) tumpah ruah. Akibatnya ada rasa bahagia, berdebar-debar, speechless, sampai mabuk kepayang. Pernah mengalami kan? Hayo ngakuu! Jadi, namanya mabuk, berarti nggak sepenuhnya sadar dong. Artinya, ketika memilih pasangan/jodoh, cintai ia dengan logis dan sadar berdasarkan kalkulasi rasional. Sebelum benar-benar menentukan pilihan, tarik ‘ketidaksadaran’ itu. Lihatlah secara objektif , apa kekurangan dan kelebihan diri saya? Kekurangan dan kelebihan sang calon?  Apakah bisa dikompromikan? Dsb dsb deh.
6.    Dalam buku ‘Rumah Tangga’ ada bahasan bab tentang ibu paruh waktu vs ibu penuh waktu. Ini emang masalah yang memicu mom war yak? Bang Fahd bercerita bahwa istrinya dulunya berkecimpung dalam design interior. Setelah menikah, bang Fahd membebaskan istrinya untuk memilih dengan dasar ‘manakah yang membuatmu bahagia?’
Perlu diingat bahwa setiap rumah tangga punya konteks kehidupan masing-masing, punya pertimbangan masing-masing, dan latar belakang masing-masing yang tak perlu dijelaskan kepada pihak lain. Kita tidak bisa menilai secara hitam putih bahwa wanita pekerja itu buruk, fulltime mom itu baik, ataupun sebaliknya. Biarlah orang memilih atas dasar kebahagiaannya masing-masing. Tak perlu diperdebatkan. Sebenarnya, yang dibutuhkan dari kita adalah empati.
7.    Rumah tangga bukan hanya berpatokan pada usia, cinta, kemapanan, dan faktor lain, akan tetapi diwaliki oleh satu hal: tanggung jawab. Usia tak menjamin adanya kedewasaan dan tanggung jawab. Cinta dan kemapanan juga sama. Jika suami bertanggung jawab, ia akan berjuang memberikan nafkah untuk keluarganya. Jika istri bertanggung jawab, ia akan mengurus rumah tangga dengan sebaik-baiknya.
8.    Dalam membina rumah tangga, samakan frekuensi imajinasi kepada pasangan. Samakan konsep kebahagiaan yang akan dicapai bersama, ungkapkan impian masing-masing dan saling memberitahu keinginan. Itulah komunikasi yang sehat. Terlebih-lebih untuk pasangan LDR. Jika komunikasi terjaga, semua konflik bisa terselesaikan.
9.    Pesan bang Fahd yang makjleb di hati saya adalah: jangan jadikan rumah tangga sebagai sebuah rutinitas, sebab kehidupan rumah tangga adalah real life. Sebagaimana rutinitas, akan ada masa dimana mengalami kejenuhan dan kebosanan. Misalnya, tiap pagi istri yang memasak dan bersih-bersih, suami yang jadi ‘tukang ledeng, tukang listrik, tukang servis’ hehe. Bagaimana kalau hal itu berjalan selama setahun, lima tahun atau puluhan tahun?
Well, jadikan rumah tangga seperti roller coaster. Menegangkan dan penuh kejutan. Setiap saat ada cerita, ada pengalaman baru. Semuanya memberi warna.
Cobalah mendobrak rutinitas (kalau perlu yang antimainstream, hihi) misalnya, istri membetulkan pagar, suami memasak dan cuci piring, dan sebagainya. Seru kan?
10.    Kala itu ada pertanyaan yang diajukan oleh bang Fahd kepada audiens yang sudah menikah. “Berapa persen anda mencintai suami anda?”. Hoho jawabannya variatif. Ada yang menjawab 95%, 80% dan lainnya. Lantas bagaimana dengan pasangan yang dijodohkan orang tua? Apakah lantas ia tak berhak akan cinta? #MendadakMellow ;D. “Tenanglah, meski kita hanya punya 5% cinta untuk pasangan,” lanjut bang Fahd. Lho kok? Ya betul, mencintai pasangan jangan 100% sebab kalau cinta sudah 100% berarti sudah tak ada ruang agar cinta terus  tumbuh. Kalau cinta hanya 5%, berarti ada peluang sebesar 95% untuk tumbuh. So sweet :D
11.    Konflik dalam rumah tangga, seperti apapun peliknya, buatlah sebagai tantangan. Ciptakan misi/ target yang akan dicapai bersama dengan pasangan dalam rentang waktu tertentu. Misalnya, ‘tahun depan kita akan punya rumah lantai 2 ya’. Atau ‘tahun depan, aku akan menjadi menantu paling disayang mertua’.
12.    Beri makna terhadap apa yang pernah kita lakukan bersama pasangan. Suka duka dilalui bersama. Hal itu justru menjadi momen romantis yang tak terlupakan. Berikan makna, dalam kondisi dan situasi bagaimanapun. Itu adalah kesempatan-kesempatan yang dianugerahkan Allah bagi pasangan untuk terus tumbuh dan berkembang bersama dalam kebaikan.
Dan talkshow siang itu ditutup dengan satu kesimpulan yang melegakan, bahwa setiap orang dalam kondisi bagaimanapun, dalam situasi seburuk apapun, ia memiliki kesempatan untuk berbahagia. Bahagia dengan cinta yang dimiliki bersama, bahagia mewujudkan impian bersama, hingga bahagia  meniti tangga surga bersama seperti tagline buku Rumah Tangga ini: Berumah dalam cinta, di tangga menuju surga. Aamiin. 

 
Alhamdulillah, siang itu saya mendapat ilmu dan hikmah yang luar biasa tentang rumah tangga. Merasa jauh lebih bersyukur, lebih bijak, dan lebih berbahagia atas titipan kehidupan ini. Tak sia-sia rasanya, menempuh 35 menit perjalanan dari pucuk gunung sampai ke tengah kota, tersengat panas dan bermandi keringat. Ya, ilmu itu sangat mahal. Menyitir kalimat agung Imam Syafi’i : jika engkau tak tahan lelahnya menuntut ilmu, maka engkau harus menahan perihnya kebodohan. 
Sayangnya, saya keburu harus pulang begitu acara selesai. Tak bisa ikut antri fotbar dan booksigning. Saya ingat pesan si sulung tadi agar cepat-cepat pulang. Jadilah setelah shalat asar, saya cabut pulang.

Terima kasih untuk Bang Fahd Pahdepie. Semoga ilmunya barakah. Keluarga dilimpahi kebaikan yang banyak, dan dijadikan-Nya rumah tangga anda sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiin.
    Ngomong-ngomong, kenapa ini ada lampiran segala ya. Hihi. Ceritanya ini adalah surat cinta tentang rumah tangga yang diikutkan lomba tapi belum berjodoh untuk lolos. Hehe. Biar ga mubadzir, so saya bagi di blog ini ;D #Siap-siapMellow ModeOn 
Berapa Harga Kebahagiaan yang Harus Kita Beli, Sayang?
Teruntuk Suamiku,
    Pertanyaan hati ini begitu menggelitik. Sebenarnya, untuk apa kau memilihku? Menjadikanku milikmu melalui keagungan sumpah langit. Untuk kebahagiaan-kah? Kau bilang tak tahu, sebab takdirlah yang membuat pilihan. Kau hanya menjalani saja. Meski jawabanmu begitu sederhana, tak urung membuat kedua belah pipiku bersemu dadu. Meruapkan harapan, mimpi, dan cinta di lembar-lembar baru hari kita. Ya, kita. Kita tak lagi satu individu: kau ataupun aku.
    Sampai di sini, bahagiakah kau? Ketika di tahun pertama, aku sudah terlihat penuh cacat cela. Aku yang manja, kadang pelupa, dan tak piawai meracik masakan kesukaanmu. Aku yang suka marah tak jelas, sensitif, dan menuntut perhatian lebih darimu. Aku yang tak bisa kompromi, keras kepala, dan mau menang sendiri.
    Lalu, tahun-tahun berikutnya setelah satu per satu anak-anak kita lahir menyemarakkan dunia. Masihkan kau merasa bahagia? Setelah aku mem-bully mu dengan tak sengaja sebab rasa sakit itu. Setelah kau bersabar dan terus melirihkan doa untuk keselamatanku dan bayi kita. Tak hanya menatap bayi kita dengan ruahan rasa syukur. Kaupun masih bersedia mengurus semua keperluanku, menemaniku begadang, memijitku yang kelelahan, dan terus menguatkanku dalam setiap keadaan. Oh, berapa harga untuk membeli sebuah kebahagiaan, sayang? Bukankah tak terhitung?
    Dan ketika ujian itu bertubi-tubi menghantam biduk kita, masihkah kau bersedia menggenggam tanganku erat? Membisikkan di telingaku bahwa semua akan baik-baik saja. Kutahu bahwa kau hanya memintaku untuk sedikit bersabar kala atap bocor saat turun hujan. Kala kendaraan roda dua kita satu-satunya digondol maling. Kala kau sering pergi mengusahakan nafkah tambahan. Kala rumah kontrakan kita menjadi berantakan karena ulah anak-anak. Kala harga-harga kebutuhan melambung dan kita harus bertahan dalam kesempitan, kekurangan, dan himpitan? Kau bilang, kebahagiaan itu harus tetap menjadi milik kita, seberapapun mahalnya, kau akan membelinya.
    Dan bulan ini, hampir 6 tahun kita mencari kebahagiaan, seperti yang dulu kau ikrarkan. Yang kau bisikkan padaku menjelang lelap. Sungguh, meski terlalu banyak masalah mendera, meski kekuatan perlahan terkikis oleh ujian, kita masih bersama. Bersinergi, bergandeng tangan membesarkan anak-anak, hidup membaur dalam masyarakat. Seribu jalan membentang di hadapan kita. Semua menawarkan pilihan. Namun, telah kita patenkan sejak pondasi rumah tangga kita bangun, bahwa kita hanya akan menempuh kebahagiaan yang diridhoi-Nya. Di dunia hingga jannah-Nya. Aamiin.
Yang bahagia bersamamu, istrimu.



Postingan populer dari blog ini

Menghafal Qur’an beserta Artinya dengan Metode Al Jawarih

Assalamu'alaikum teman-teman, Menjadi ‘hafidz/hafidzah’ tentu impian dan harapan umat muslim ya. Kalaupun diri sudah tidak merasa mampu dan efektif untuk menjadi penghafal (mungkin karena faktor U hehe), tentunya kita berharap bahwa anak kita bisa menjadi hafidz/hafidzah. Aamiin.
Dalam mewujudkan impian untuk ‘menjadikan’ anak salih salihah yang tak sekadar hafal qur’an, tetapi juga memiliki akhlak Al qur’an, artinya sebagai orangtua kita harus mengupayakan dengan doa dan ikhtiar yang panjang. Sebab tak ada cara instan. Semua membutuhkan proses. Saya sering menemukan dalam sebuah buku bahwa pendidikan anak dimulai dari saat pencarian jodoh. Sebab anak berhak untuk memiliki ayah dan ibu yang solih/ah dan cerdas. Baru setelah menikah dan terjadi kehamilan, pendidikan selanjutnya adalah di dalam kandungan. Setelah si bayi lahir, pendidikan itu terus berlangsung hingga meninggal. Never-ending-chain dalam belajar ya. Pada suatu kesempatan, perumahan kami kedatangan tamu yaitu ustadz Irf…

Resensi Buku 'Andai Aku Jalan Kaki, Masihkah Kamu Selalu Ada Untukku?' @Buletin Pustaka

Resensi Novel MAHSI: Belajar Bijak Mengelola Cinta