Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Webinar Parenting 'Menggairahkan Spirit Belajar Anak di Masa Pandemi' bersama ibu Sukmadiarti Psikolog

Assalamualaikum dear parents, Semoga semua stay healthy di masa pandemi ini ya. Aamiin. Alhamdulillah di hari Sabtu tanggal 24 Oktober 2020 kemarin, mendapat kesempatan menimba ilmu melalui kelas parenting virtual yang diselenggarakan oleh SDIT Mutiara Hati Semarang. Acara yang diikuti oleh wali murid ini mengambil topik yang sangat menarik yaitu Menggairahkan Spirit Belajar Anak di Masa Pandemi . Seperti yang kita tahu, bahwa pandemi ini memiliki dampak yang sangat luas di berbagai bidang. Tidak terkecuali bidang pendidikan. Namun, delapan bulan berlalu, kiranya kita harus tetap beradaptasi dengan perubahan dan bersemangat dengan tantangan membersamai proses belajar ananda di rumah.   Narasumber yang membawakan materi tersebut adalah Ibu Sukmadiarti Perangin-Angin. Seorang psikolog, konsultan keluarga, Founder Parenting School, CEO @positive-consulting, penulis buku, dan owner Sukma Batik Jogja. Beliau juga mengelola blog www.sukmadiarti.com dan www.positiveconsulting.id . Le

Keseruan One Day Trip ke Curug Gending Asmoro, Kampoeng Rawa, Bukit Cinta, dan Agrowisata Gunungsari

  Assalamualaikum, kawans Apa kabar? Semoga di masa pandemi yang entah kapan usai ini, kita selalu diberikan kesehatan fisik dan mental. Menjaga kesehatan fisik dengan konsumsi makanan sehat bergizi, olahraga teratur, minum air putih 8 gelas per hari, nggak sering begadang, dan terapkan protokol kesehatan jika keluar rumah. Menjaga kesehatan mental juga penting banget lho. Selalu positive thinking, bersyukur dan bahagia. Ada pepatah mengatakan, hati yang bahagia adalah obat. Kadangkala penyakit fisik bisa berawal dari stress, misalnya. So, beware ya dengan stress yang berlarut-larut dan kurang dikelola dengan baik. Coba kenali dan cari solusinya. Menurut saya, me time itu penting. Me time itu kebutuhan. Setelah berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan terjebak rutinitas yang monoton, tentu lelah, emosi, bosan terakumulasi jadi satu. Terkadang bisa tilawah atau baca buku tanpa diganggu keriuhan adalah me time yang membahagiakan. Kadang main ke rumah teman sebentarpun, bisa

Kisah Seorang Perempuan dan Anak-Anaknya

sumber gambar: www.idntimes.com Miang… Ia bergolek, lalu menguap lebar. Demi melihat Atri yang sepagi ini telah bersolek, ia bangkit dari singgasana nyamannya. Dengan langkah menggoda--pun jelas-jelas mencari perhatian—dihampirinya perempuan bermata coklat dan berdagu lancip itu untuk meminta jatah pelukan. Pelukan Atri adalah pelukan paling nyaman yang ia rasakan di pagi pertama ia membuka mata. “Oh, sayang…” Atri mendaratkan ciuman di pipinya. Direngkuhnya kepalanya, lalu diusap-usapnya dengan penuh cinta. Perempuan itu begitu takjub. Tampak dari manik matanya yang berbinar-binar indah. “Lihatlah, Pa. Matanya coklat seperti mataku. Hei, bukanlah bibirnya mungil seperti bibirmu? Ah, kenapa aku bisa terlambat menyadari…” Duh, bagaimana caranya bilang, kalau ia bukan seorang bayi… *** 3 tahun yang lalu. “Andai saja semua mimpi buruk itu tak menimpaku.” Atri mendesah, hampir tanpa suara. Tatapan kosong itu tertumbuk pada jendela lebar dengan tirai minimalis warna

Lelaki Tua dengan Keriut Pikulan di Pundaknya

Bagi Nin, tidak ada yang membuatnya lega kecuali sudah berbagi.           Tak muluk-muluk harapan ibu muda usia 25 tahun itu. Sepotong senyum memberi arti tersendiri mengingat di dunia ini sudah banyak orang lupa cara tersenyum. Senyum pada suami, kedua anaknya, tetangga, sampai pada tanaman yang ia sirami setiap pagi. Ekonomi pas-pasan bukan untuk dijadikan alasan bagi tangannya erat menggenggam. Kucing liar, burung yang mampir di teras rumah, dan semut yang berjalan beriringan, telah merasakan cipratan rezeki dari tangan Nin. Tangan yang selalu bergerak untuk menabur. Sekecil apapun kebaikan yang disertai ketulusan, mencipta hari-harinya penuh warna. Hingga di suatu siang yang sendu karena hujan, seorang tukang somay berteduh di carport rumahnya. Seraut wajah tua yang lelah dan basah, mengetuk pintu. Hanya meminta kemurahan hati tuan rumah untuk izin berteduh. Gigil berpadu gigi yang gemeletuk sontak menerbitkan iba di hati Nin. Nin mengangguk. Ekor matanya melirik pada du