Langsung ke konten utama

Webinar Parenting 'Menggairahkan Spirit Belajar Anak di Masa Pandemi' bersama ibu Sukmadiarti Psikolog



Assalamualaikum dear parents,

Semoga semua stay healthy di masa pandemi ini ya. Aamiin.

Alhamdulillah di hari Sabtu tanggal 24 Oktober 2020 kemarin, mendapat kesempatan menimba ilmu melalui kelas parenting virtual yang diselenggarakan oleh SDIT Mutiara Hati Semarang. Acara yang diikuti oleh wali murid ini mengambil topik yang sangat menarik yaitu Menggairahkan Spirit Belajar Anak di Masa Pandemi. Seperti yang kita tahu, bahwa pandemi ini memiliki dampak yang sangat luas di berbagai bidang. Tidak terkecuali bidang pendidikan. Namun, delapan bulan berlalu, kiranya kita harus tetap beradaptasi dengan perubahan dan bersemangat dengan tantangan membersamai proses belajar ananda di rumah.

 Narasumber yang membawakan materi tersebut adalah Ibu Sukmadiarti Perangin-Angin. Seorang psikolog, konsultan keluarga, Founder Parenting School, CEO @positive-consulting, penulis buku, dan owner Sukma Batik Jogja. Beliau juga mengelola blog www.sukmadiarti.com dan www.positiveconsulting.id . Lewat akun Youtube nya beliau juga banyak berbagi ilmu dan tips terkait parenting, manajemen emosi, dan pengembangan diri. Auto follow ig dan subscribe YouTube beliau dong. ^^

Proses KBM berpindah dari sekolah ke rumah dan tugas pendidikan kembali kepada orangtua, membuat orangtua tidak siap, bingung, galau, dan sebagainya. Mengkondisikan anak untuk stay tuned dalam belajar adalah tantangan terbesar. Godaan tayangan televisi, teman, tetangga, dan  gawai yang melambai-lambai, membuat anak nggak konsen. Dan akhirnya memilih mengabaikan belajar demi kesenangan tersebut. Kalau sudah begini, puyeng deh ortunya. Hehe.

 


Sebagai orangtua, peran kita sangat dibutuhkan dalam mengoptimalkan potensi anak. Potensi tersebut harus digali, ditemukan, dan terus diasah secara kontinyu. Salah satu caranya adalah dengan stimulasi pada tiga aspek yaitu: akal, fisik, dan emosi. Akal, dengan membaca, belajar, berpikir, menemukan solusi. Fisik, dengan bergerak, berolahraga, berkegiatan outdoor. Emosi, dengan rasa cinta, kasih sayang, perhatian, waktu kebersamaan, dll.

Poin terakhir merupakan bahasan yang sangat vital. Bagaimana cara memanajemen emosi pada anak, sementara orangtua sendiri juga masih berjibaku dengan problem yang menguras emosi? Hehe. Berarti kitanya dulu yang juga harus menyetel emosi agar stabil. Agar bahagia. Sebab hanya orangtua yang bahagia yang bisa membuat anak bahagia.

 


Mari mengutip quotes dari Gary Chapman dalam bukunya Lima Bahasa Cinta:

“Dengan mengisi tanki emosional anak dengan cinta, orangtua akan lebih mudah mendisiplinkan dan melatih anak dibanding jika membiarkan tanki emosionalnya kosong”

Lantas, apa yang membuat tanki emosional anak terisi?

Ya, penuhi hak anak dahulu akan cinta, kasih sayang, perhatian, dan rasa aman. Seringkali orangtua menuntut anak untuk belajar, sementara mereka belum mendapatkan haknya. Wajar kalau anak merasa terpaksa, kesal, malas-malasan dan sebagainya. Dan kita sebagai orangtua, juga jangan lupa mengisi ‘tanki emosional’ kita sendiri. Bagaimana caranyaa? Ssstt terus baca tulisan ini ya.

 

Tantangan pembelajaran di masa pandemi menjadi problem yang berkesinambungan. Sinergi antara orangtua, anak, dan guru sangat diperlukan meski KBM via daring. Faktor eksternal dan internal juga berpengaruh pada keberhasilan proses belajar anak. Idealnya, kita menginginkan faktor eksternal yang mendukung seperti aturan yang konsisten, lingkungan yang kondusif, dan pendamping belajar yang interaktif. Itulah ekspektasi. Realitanya, jauh panggang dari api hehe.

Untuk menegakkan aturan memang butuh negosiasi dan membuat kesepakatan dengan anak sehingga didapatkan win win solution. Kita juga bisa memberikan opsi misalnya, mau main dulu atau belajar dulu, dengan disertai konsekuensi atas pilihannya. Dalam menciptakan lingkungan yang kondusif juga butuh seni. Misalnya, ruang kamar yang rapi, bersih, dan nyaman. Anak dalam keadaan sudah mandi, sudah sarapan, shalat duha, dan sebagainya sehingga anak siap untuk belajar. Daan pendamping belajar yang interaktif ini masih menjadi PR bagi saya. Saya ingat kata-kata guru senior saat masih mengajar dulu: children can learn happily in a playful situation. Dibutuhkan rasa gembira, asik, nyaman, dan nggak serius-serius amat belajarnya. Hihi misalnya diselingi tebak-tebakan, sedikit cerita, dll. Oh ya, bu Sukma juga berpesan agar ortu menghindari labelling pada anak, misalnya: “Kak, gitu aja kok nggak bisa sih!”. Masalahnya anak usia 0-12 tahun belum bisa memilih informasi yang masuk, sehingga informasi tersebut masuk ke alam bawah sadarnya dan menjadi sesuatu yang diyakininya. Bisa jadi ‘keyakinan bahwa aku tidak bisa’ itu akan dibawa sampai anak dewasa. Hikss. Astaghfirullah. Semoga kita para orangtua selalu dibimbing-Nya agar nggak terpeleset lisannya.

Selain faktor eksternal di atas, beberapa faktor internal juga berpengaruh, seperti:

1.      Prioritas

Kiranya kita perlu bertanya pada diri sendiri. Apakah membersamai belajar anak termasuk dalam prioritas dalam padatnya agenda harian kita? seberapa lama alokasi waktu untuk itu?

2.      Moody

Suasana hati yang baik (good mood) sangat diperlukan dalam menggairahkan spirit belajar anak. Bagaiamana anak mau bergairah belajar, saat lihat ortunya lagi bad mood. Anak tentu juga nggak semangat kalau sedang bad mood, bukan?

3.      Demotivasi

Motivasi yang rendah membuat anak cenderung ogah-ogahan dalam belajar. Tugas orangtua adalah memotivasi anak agar semangat belajarnya terjaga.

4.      Fixed mindset

Jangan terjebak pada pola pikir tetap (fixed mindset) yaitu mengunci pikiran sendiri, misalnya dengan pernyataan “Duh, aku nggak bisa deh!” atau “Ini susah banget! Rasanya mau nyerah saja!” pernyataan tadi akan menimbulkan excuse yang menghambat langkah kita. Sebaiknya ubah fixed mindset menjadi growth mindset yaitu pola pikir yang tumbuh. Growth mindset membuat perasaan menjadi lebih baik dan merubah tindakan menjadi lebih baik pula.

Lalu, bagaimana caranya merubah growth mindset? Lakukan selftalk. Berbincang/berkomunikasi kepada diri sendiri tentang apa yang dirasakan. Oh ya, sampaikan juga kepada anak tentang harapan kita kepada anak.

5.      Daya juang yang rendah

Kurangnya motivasi akan pentingnya belajar membuat anak mudah menyerah dalam perjalanan belajarnya. Anak berpuas diri dengan merasa cukup dengan sebuah pencapaian, meskipun belum maksimal.

Parents, kuncinya adalah bahagia. Ubah mindset, bahwa tugas tidak sama dengan beban. Tugas adalah momen kedekatan sehingga sebisa mungkin kondisikan pikiran. Sugesti dan afirmasi positif terus menerus digaungkan agar kita bahagia. Cara lain untuk menjadi bahagia, bagaimana?

1.      Memilih untuk bahagia yaitu dengan penerimaan yang tulus.

2.      Mencoba flashback ke masa lalu. Siapa tahu ada inner child berupa luka pengasuhan yang masih membekas sehingga saat menemukan kondisi sekarang yang mirip di masa lalu, emosi itu akan muncul kembali. Kenali dan kendalikan.

     baca juga: Membasuh Luka Pengasuhan

3.      Kebahagiaan bukan merupakan hasil kesuksesan tetapi kunci kesuksesan.

Kata Pak Menteri Nadiem Makariem, well-being atau kesejahteraan psikologis (kebahagiaan) adalah penentu kesuksesan belajar.

            Well, kembali ke bahasan awal tentang memenuhi tanki cinta anak yang disebutkan oleh Pak Gary Chapman tadi. Ada lima bahasa cinta yang diharapkan mampu mengisi tanki cinta anak, yaitu: Sentuhan fisik (pelukan, ciuman), Hadiah, Pujian (afirmasi positif dan dukungan), Pelayanan, dan waktu berkualitas. Tujuan kelima hal tersebut adalah membuat anak merasa dicintai. Namun, perlu diperhatikan juga apakah bahasa cinta tersebut sudah tepat sasaran atau belum. Kita perlu menganalisis kecenderungan anak lebih menyukai bahasa cinta yang mana sebab setiap anak memiliki kebutuhan akan bahasa cinta yang berbeda. Mungkin kita merasa sudah banyak memberi pujian dan hadiah, tapi seakan tidak berarti. Anak masih belum ngeh. Belum berpengaruh signifikan terhadap perubahan sikap. Eh, ternyata setelah ditelisik lebih jauh, dia menginginkan pelukan dan obrolan misalnya. Ibarat dia lapar ingin makan, kita malah memberinya minum bergelas-gelas. Hihi.

Lantas, setelah tanki cinta kita dan anak sudah sama-sama terisi, bagaiamana langkah untuk menggairahkan spirit belajar anak?

1.    Tetapkan Tujuan, misalnya belajar mata pelajaran bahasa Inggris. Dimulai dari jam 7 sampai jam 8 pagi. Mengerjakan latihan soal dan tanya jawab.

2.    Sepakati aturan. Komunikasikan pada anak tentang jadwal belajar yang membuatnya nyaman, beserta konsekuensi jika melanggar aturan.

3.  Konsistensi dalam pelaksanaan. Ortunya harus konsisten juga sebab anak juga menilai seberapa konsisten orangtuanya dalam mendampinginya belajar.

4.     Konsekuensi, beri reward dan penguatan jika anak telah melakukan tugasnya dengan baik. Sepotong es krim, senyum manis, dan ucapan ‘kamu hebat dan semangat!’ membuat anak bahagia dan termotivasi untuk mengulanginya kembali.

5.      Evaluasi. 

Nah, kalau sudah berupaya untuk melakukan lima poin di atas, ini saatnya bagi orangtua untuk menerapi diri untuk mengelola emosi. Bu Sukma memberikan tiga tips yaitu:

1.      Ikhlas

Menerima kondisi diri apa adanya, beserta segala keterbatasan yang dimiliki. Menerima kondisi anak apa adanya, kurang lebihnya, sebagai karunia dari Allah.

2.      Maafkan

Ucapkan pada diri, “Ya Allah, saya maafkan anak saya. Saya terima anak saya apa adanya. Saya ridha padanya.” Ingat selalu bahwa ridha orangtua adalah kunci ridhonya Allah.

3.      Pasrah

Ucapkan pada diri “Saya pasrah. Saya tanpa daya tanpa pertolongan dari-Mu ya Allah.”

Dengan terapi selftalk tadi, semoga hati menjadi tenang dan semoga Allah mudahkan untuk mendampingi belajar anak di hari-hari selanjutnya.

Aamiin yaa robbal alamiin.

Patemon, 26 Oktober 2020 21:00

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Resensi) Novel Guru Aini: Tentang Cita-Cita, Keberanian, dan Idealisme

Judul                : Guru Aini Penulis              : Andrea Hirata Penerbit            : Bentang Pustaka Cetakan            : pertama, Februari 2020 Jumlah hal        : 336 halaman ISBN                : 978-602-291-686-4 sumber: www.mizanstore.com             Gadis lulusan terbaik itu bernama Desi. Jelita, jangkung, dan cerdas bukan buatan meski berkemauan kuat dan berkepala batu. Orangtuanya juragan terpandang. Dengan berbagai anugerah itu, Desi bisa menjadi apapun yang dia inginkan. Namun tak dinyana, di usianya yang baru 18 tahun, dia sudah mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Desi ingin mengabdi di pelosok desa sebagai guru matematika sebab negeri ini kekurangan guru matematika. Desi tak sedikitpun tergiur oleh karir-karir menjanjikan di luar sana. Menjadi guru adalah panggilan jiwa.             Sang ayah memberikan hadiah sepasang sepatu olahraga untuk Desi untuk menggapai cita-citanya. Sepatu isti

Ngumpul Seru Sekeluarga di Angkringan Mbah Dharmo

ummi dan Sayyida  Assalamualaikum man teman, Hari Minggu tanggal 24 Desember 2017 lalu, pertama kalinya kami mengunjungi Angkringan Mbah Dharmo di Ambarawa. Beberapa bulan lalu, saat saya lewat jalan lingkar di malam hari, ada kerlip lampu dari kejauhan. Indah banget. Saya pikir tempat itu semacam cafe alias tempat nongkrong kekinian gitu. Rasa penasaran saya terjawab sudah ketika adik saya mengajak kita semua ke sana. Agendanya ngumpul bareng. Syukuran ulangtahun adik ipar , juga anniversary pernikahan adik yang kelima plus rencana mau memberi kejutan buat ibu. Haha paket lengkap alias all in deh. Mother’s day memang sudah lewat dan kamipun nggak merasa harus merayakan hari ibu. Cuma sesekali ingin memberikan semacam penyegaran buat ibu dari pusingnya membuat raport kurtilas. Hehe. daftar menu  Kami datang sekitar jam 10.30. Dari jalan lingkar, kami memasuki jalan menuju lokasi. Kanan kiri berupa hamparan sawah. Sebagian padi menguning siap dipanen. Sebagian la

Menghafal Qur’an beserta Artinya dengan Metode Al Jawarih

Assalamu'alaikum teman-teman, Menjadi ‘hafidz/hafidzah’ tentu impian dan harapan umat muslim ya. Kalaupun diri sudah tidak merasa mampu dan efektif untuk menjadi penghafal (mungkin karena faktor U hehe), tentunya kita berharap bahwa anak kita bisa menjadi hafidz/hafidzah. Aamiin. Dalam mewujudkan impian untuk ‘menjadikan’ anak salih salihah yang tak sekadar hafal qur’an, tetapi juga memiliki akhlak Al qur’an, artinya sebagai orangtua kita harus mengupayakan dengan doa dan ikhtiar yang panjang. Sebab tak ada cara instan. Semua membutuhkan proses. Saya sering menemukan dalam sebuah buku bahwa pendidikan anak dimulai dari saat pencarian jodoh. Sebab anak berhak untuk memiliki ayah dan ibu yang solih/ah dan cerdas. Baru setelah menikah dan terjadi kehamilan, pendidikan selanjutnya adalah di dalam kandungan. Setelah si bayi lahir, pendidikan itu terus berlangsung hingga meninggal. Never-ending-chain dalam belajar ya.   anak-anak tahfidz Al fatihah tasmi surat An Naba'