Langsung ke konten utama

Indahnya Menahan, Mencipta Ramadhan Penuh Kesan


9 Jurus jitu mengendalikan hawa nafsu dan membuat puasa semakin bermakna
 
sumber: www.pixabay.com
Ilustrasi.
Suatu pagi di teras masjid sekolah. Pada jam istirahat pertama, Doni, Nafis, dan Aga usai menjalankan shalat dhuha. Mereka tengah berkumpul membicarakan agenda-agenda rohis, ketika Aisya dkk, melintas. Doni menatap mereka beberapa detik.
“Ehem, ghadhul bashar, Bro!” Aga mengingatkan.
“Inget, lagi puasa, lho!” timpal Nafis.
“Mereka manis-manis sih. Hihi. Kenapa ya kalau lagi puasa gini godaannya malah makin berat,” keluh Dony sambil menggaruk-garuk kepala.
“Puasa ibarat benteng pertahanan. Semakin kokoh benteng kita, maka syetan juga makin gencar melemahkan, dengan seribu satu cara.” Aga bersuara lagi.
“Iya, lewat kanan, kiri, depan, belakang. Nyebelin banget kan?” Nafis bergidik.
“Lho, kan syetan dibelenggu pas Ramadhan kayak gini,” protes Dony.
“Berarti itu hawa nafsu, dong!” Aga dan Nafis menjawab kompak dan geli.
“Kalian tahu nggak caranya, biar remaja ababil kayak aku ini bisa mengendalikan hawa nafsu pas lihat yang indah-indah?” tanya Doni mendadak kepo.
“Itu dia tema yang mau kita angkat di kajian pekan depan!” pekik Aga.
 “Ide bagus tuh!” Dony dan Nafis sependapat.
Mereka bertiga asyik mengolah ide dan membuat perencanaan, hingga bel masuk berdering. Mereka juga nggak ngeh saat Aisya dkk telah menghilang dari masjid.

Nah, sobat muslim. Kita sudah masuk bulan sya’ban nih. Sudahkah kita mempersiapkan jiwa, raga, dan ruhiyah? Memulai Ramadhan perdana dengan pekik bahagia, “Marhaban Yaa Ramadhan”.
Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Syakban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan
Para Nabi dan salafushalih telah mempersiapkan kedatangan Ramadhan sejak 6 bulan sebelumnya. Keren banget ya. Mereka memperkuat intensitas ibadah, membersihkan hati dan jiwa, senantiasa mendekatkan diri pada-Nya, bahkan memohon dipanjangkan umurnya agar bertemu Ramadhan kembali. Subhanallah.
Ramadhan memang bulan istimewa dimana pada bulan tersebut Al Qur’an diturunkan, disediakan-Nya malam Lailatul Qodar, syaitan dibelenggu, pintu neraka ditutup, pintu surga dibuka lebar, siksa kubur dibebaskan, dan pahala dilipatgandakan. Rasulullah bersabda,” Barangsiapa berbahagia atas datangnya Ramadhan, maka diharamkan jasadnya menyentuh api neraka.”
Nah, betapa cintanya Allah pada hamba-Nya. Kita berbahagia saja, sudah diharamkan api neraka, apalagi kalau kita fokus beramal salih di bulan ini? Tak terbayangkan kan pahala yang akan kita raup? Kita boleh banyak beramal, asal diistiqomahkan untuk seterusnya. Tidak hanya saat Ramadhan saja karena sesungguhnya amalan yang dicintai Allah adalah sedikit tetapi terus menerus (istimror).
Sobat muslim, berkenaan dengan ibadah puasa, ada hal-hal yang harus diperhatikan agar target puasa kita tercapai. Adapun sebuah amalan memenuhi syarat disebut ibadah adalah jika memenuhi 4 syarat sebagai berikut: merupakan perintah Allah, dilakukan dengan tata cara yang benar, disempurnakan, dan dilakukan terus-menerus. Susah bukan? Sebab pada kenyataan di lapangan, kita seringkali dibenturkan oleh godaan-godaan, baik eksternal maupun internal. Syaitan memang telah dibelenggu, dan kini musuh yang nyata yang harus dilawan dan dikendalikan adalah hawa nafsu. Allah berfirman,”Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzolim.” (Al Qashshas:50)
Seperti ilustrasi di atas, bahwa ketertarikan kepada lawan jenis, godaan, dan pernak-pernik pergaulan merupakan sunatullah. Hal itu adalah bagian dari fitrah manusia yang mempunyai hati, indera, dan pikiran. Saat baligh, secara alamiah hormon-hormon mulai bekerja sehingga terjadi perubahan fisik dan psikis. Jiwa menjadi sensitif dan cenderung labil, hati bergejolak, serta emosi negatif tak terbendung. Maka, dengan berpuasa, sesungguhnya Allah membimbing kita untuk mengendalikan diri agar segala perilaku kita lebih terkontrol.
Berikut ini adalah jurus-jurus untuk mengendalikan hawa nafsu dan insya Allah untuk membuat puasa kita menjadi lebih bermakna. Check it out yaa!

sumber gambar: www.himpunkartun.blogspot.com

1.      Jaga Pandangan alias ghadhul bashar
Mata adalah indera luar biasa yang diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya harus kita jaga amanah itu dengan baik.
Sinta Yudisia dalam Kitab Cinta dan Patah Hati, mengemukakan bahwa kinerja mata hingga dipersepsi otak melewati jalur ini: Input dari mata kanan menuju retina mata sebelah kiri, menuju belahan otak sebelah kiri, dan berlaku sebaliknya. Serat saraf dari masing-masing mata bertemu di satu titik optic chiasm, melintas berseberangan dari jalur semula menuju thalamus dan visual cortex. Misal melihat gadis manis, mata akan memasukkan input informasi seketika. Dalam sepersekian detik, sinyal itu sampai di thalamus dan visual cortex. Apakah input ini akan diseleksi untuk mengalihkan pandangan atau tidak. Itulah proses seleksi (hal.85)
That’s why Allah memerintahkan kepada kita untuk menjaga pandangan. “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman. Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An Nuur:30)
Mata adalah jendela hati dan cerminan jiwa. Jangan mengumbar pandangan sebab dengan adanya kontak mata, membuat hati berdesir hingga hati sibuk menindaklanjuti konsekuensi dari pandangan itu. Jika terlanjur menumbukkan pandangan pada objek yang menarik dan berpotensi untuk tergoda bahkan membatalkan puasa, maka segeralah memalingkan pandangan, jangan malah diterus-terusin, hehe.
Rasulullah Saw pernah menegur Ali Ra, “Janganlah engkau arahkan satu pandangan (kepada wanita yang bukan mahram) dengan pandangan lain, karena pandangan pertama itu halal bagimu, tapi tidak yang kedua.”
Dengerin deh lirik lagu ini:
Tatap matamu bagai busur panah
Yang kau lepaskan ke jantung hatiku
Hii, serem ya. Mending kabur deh. Jangan sampai puasa kita sia-sia karena kelalaian menjaga lensa terindah amanah Allah ini ya.

2.      Tidak ikhtilath dan khalwat dengan lawan jenis
Begitu sayangnya Allah pada manusia, sehingga aturan-Nya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri dan untuk kemaslahatan bersama. Degradasi moral dan ketidakteraturan sosial pun bisa dihapus, setahap demi setahap.
Tidak hanya pada saat Ramadhan. Saat hari-hari lain pun jauhilah ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim) serta berkhalwat (berdua-dua antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim). Ikhtilath dan khalwat ibarat pintu gerbang syaitan untuk menggoda lawan jenis (yang awalnya hanya ngobrol ringan, lama kelamaan terbiasa, lalu lebih berani untuk melanggar batasan pergaulan) hingga mendekati pintu-pintu zina.
Dengan tegas Rasulullah bersabda,” Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya, karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan.” (HR Muslim)
Jika puasa adalah benteng kokoh, maka janganlah kita robohkan benteng itu dengan melakukan aktivitas yang mendekati zina tersebut. Puasa seyogyanya menjadi perisai diri. Malu jika melakukan kemaksiatan baik terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Malu berbuat dosa. Merasa selalu dalam pengawasan Allah dan malaikat yang merekam semua tindak-tanduk kita tanpa terlewat sedikitpun. Berjuang sekuat tenaga agar amalan kita berkualitas di hadapan-Nya, serta mendapatkan pahala besar yang telah dijanjikan-Nya.
Dalam konteks ini, hindari pula sentuhan kulit dengan lawan jenis termasuk berjabat tangan dengan non-mahram. Seperti tanaman putri malu, kulit kita sangat sensitif terhadap sentuhan lho. Sengaja atau nggak sengaja, sentuhan dengan lawan jenis bisa menimbulkan sensasi yang dahsyat dan unforgettable. Sayangnya, bisa menjerumuskan pada dosa. Hiks.

3.      Menyibukkan diri dengan ibadah wajib dan menghidupkan sunnah
Ramadhan menjadi momentum paling tepat untuk fastabiqul khoirot—berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebab waktu hidup di dunia sesingkat musafir yang duduk beristirahat sejenak, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Teruslah bergerak, jangan berhenti, apalagi cuma bermalas-malasan. Ibnu Qoyim Al-Jauziah memberi nasihat, “Sibukkan dirimu dengan kebaikan, jika tidak kamu akan disibukkan dengan keburukan.”
Nasihat bijak Dr. Aidh Al-Qarni dalam Jangan Bimbang! Berpesan bila kita menyibukkan diri dengan suatu aktivitas yang berguna, syaraf-syaraf kita akan terasa nyaman, jiwa kita merasa tenang, dan kedamaian akan senantiasa meliputi diri kita. (hal. 88). Memang ada kalanya, saat berpuasa fisik kita lemas. Istirahatlah sebentar. Tidurlah sejenak untuk men-charge energi karena tidurpun berpahala saat Ramadhan. Hindarilah bersantai ria, nongkrong, nonton tv seharian dan hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya. Rugi dong kalau menyia-nyiakan kesempatan emas Ramadhan.
Kalimat inspiratif Umar bin Khaththab ini yang membuat semangat melejit. “Satu hari yang kusesali. Hari yang panas tanpa kesejukan puasa dan malam yang dingin tanpa kehangatan qiyamullail.”
So, saat berpuasa, maksimalkan waktu, potensi, dan energi kita untuk beribadah maghdoh. Pun menjalankan tugas-tugas seperti menuntut ilmu, silaturahim, dan berbuat kebaikan. Penting pula untuk memahami ilu tentang fiqh ibadah dan mengaplikasikannya dalam keseharian. Agar jiwa menjadi hidup, hati menjadi tenang, dan pahala bertambah, maka tambahlah dengan ibadah sunnah, seperti tarawih, qiyamulail, shalat dhuha, bersedekah setiap hari, menolong orang lain, dan sebagainya.
Menurut riwayat, Rasulullah yag sudah ma’sum pun masih beristighfar 100x sehari, shalat malam hingga kakinya bengkak, menyantuni fakir miskin dan para janda, dan berdakwah tanpa henti.
Benarlah kata-kata agung Imam Asy Syafi’i: Pahalamu adalah sesuai kadar lelahmu.
So, bagaimana dengan kita? Yuk kita bergerak bersama!

4.      Menjaga hati dan tidak memperpanjang angan-angan
Jagalah hati jangan kau nodai
Jagalah hati lentera hidup ini
Familiar kan dengan lirik Nasyid di atas? Yup, penting banget bagi kita untuk menjaga hati, guys. Kebayang kalau hati kita pas keruh bagai air empang, hehe. Bawaannya juga nggak semangat, marah, badmood, dan enggan berorientasi pada kebaikan kan?
Pernah dengar istilah zina hati? Zina hati bisa menginfeksi seseorang. Salah satunya karena memperpanjang angan-angan. Membayangkan sesuatu yang indah-indah bersama someone special, lalu tercetus, “Ah, andaikan aku dan dia... bla.. bla..bla..”. sebelum keterusan, stop sampai di sini deh. Coba simak hadist di bawah ini.
“Kedudukan syaitan dalam diri seorang pria itu ada di 3 tempat: dalam pandangannya, hatinya, dan ingatannya. Kedudukan syaitan dalam diri seorang wanita juga ada 3: dalam lirikan matanya, hatinya, dan kelemahannya.” (HR Ibnu Abbas ra)
Tuh kan urusan hati tetap mendominasi, baik pada laki-laki ataupun wanita. Kalau hati udah sreg, akal sehat bisa dikesampingkan, hawa nafsu merangsek mengambil alih, hingga tak pelak berujung pada tindak kemaksiatan.
Pernah baca atau mendengar kisah cinta Ali bin Abi Thalib dan putri Rasulullah, Fatimah Az Zahra? Saking mereka saling menjaga hati satu sama lain, dan saking rahasianya, syaitan pun sampai tak tahu bahwa Ali dan Fatimah saling menaruh hati. Mereka hanya mendamba cinta sejati, yaitu yang berlandaskan cinta karena-Nya semata. Hmm, so sweet bangeet...

5.      Menjaga Dengaran
Coba berdiam sejenak. Dengarkan suara sekeliling kita menjelang subuh. Sayup-sayup adzan, angin yang sejuk berdesir, cericit burung. Semua itu membuat kita bersyukur akan karunia Allah berupa pendengaran. Dengan telinga, kita menikmati keindahan suara itu dan menimbulkan persepsi positif. Bagaimna kalau tiba-tiba terdengar suara Prang!! Suara piring pecah yang mengacaukan suasana. Kitapun terkejut dan secara otomatis timbul persepsi negatif. Iya kan?
Suara dan bunyi ditangkap oleh daun telinga, merambat terus hingga menuju telinga dalam, melaju terus hingga Area Brodmann 41-42 yang dikenal dengan primary auditory cortex. Area inilah yang sangat berperan dalam proses mendengar, di antaranya musik dan bahasa ( Kitab Cinta dan Patah Hati, hal. 89)
Wah dahsyat banget kan kinerja telinga kita?
Yuk kita intip firman Allah di Quran Surat Al Isra:36. “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban.”
So, selama berpuasa hukumnya fardhu ‘ain lho untuk menjaga dengaran. Maksudnya menyeleksi apa-apa yang sebaiknya kita dengar dan menimbulkan efek positif bagi hati, akal, dan jiwa kita. Alih-alih mendengarkan musik nge-rock yang memekakkan telinga dan membuat jantung serasa ditabuh, lebih oke dengerin nasihat /ceramah keislaman. Bisa juga mendengarkan lantunan murattal. Selain bermanfaat sebagai tazkiyatun nafs (membersihkan jiwa), bagus juga untuk menajamkan fikir serta murojaah hafalan.
Kalau dengerin lagu-lagu cinta yang mellow, hati bisa terhanyut, tak bersemangat, dan apesnya bisa mengurangi pahala kita, guys. Ya iyalah, kalau gara-gara lagu cinta, pikiran kita mengembara tak tentu arah, hati ikut melemah, dan akhirnya jatuh pada kelalaian. Ih, nggak mau kan?
Hmm, nasyid bisa jadi pilihan lho. Pilihlah nasyid yang mengandung nasihat, motivasi, dan tetap mengingatkan kita pada-Nya. Kita bisa download, ngumpulin koleksi nasyid dari CD audio atau MP3 sebagai playlist asyik untuk mengiringi aktivitas kita terutama saat berpuasa.
Ssst, dengerin deh lirik nasyid ini.
Dengan satu perjuangan, satu arah tujuan
Di bawah rahmat Yang Esa, kita melangkah seiringan
Satu perjuangan...
Easy listening dan bikin semangat kan?

6.      Menjaga Lisan
Lidah lebih tajam daripada silet. Kalau salah menggunakannya, bisa-bisa melukai orang lain. Yang terluka bukan fisik, tetapi luka hati. Luka fisik mudah hilang sedangkan luka hati akan membekas selamanya. Hiks. Tentunya kita nggak mau kan itu terjadi, apalagi saat kondisi berpuasa. Saking bahayanya fitnah lidah, Rasulullah berwasiat: jika ada seseorang yang mengajak berbuat kemungkaran, katakan saja “aku sedang puasa”.
Rasulullah pun bersabda,”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya berbicara baik, atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ya, diam itu bernilai seperti emas dalam konteks tertentu, yaitu daripada berbicara keburukan seperti ghibah, fitnah, mengolok-olok, bersumpah palsu, mengumpat, dan berkata-kata kotor. Sungguh, Allah pernah berfirman bahwa Dia tidak membutuhkan puasa dari seseorang yang lisannya tidak terjaga. Huwaa, sayang banget kan pahala puasanya lenyap, digerogoti oleh lidah tak bertulang.
Oh iya, selain menjaga lisan di dunia nyata, penting juga lho menjaga lisan di dunia maya. Seiring maraknya sosial media, sudah hampir setiap orang mempunyai akun di jejaring sosial untuk terhubung dan berkomunikasi dengan banyak orang. Lisan di dunia maya diwakili oleh ketik demi ketik aksara. Apa yang kita tulis di wall ataupun tweet kita, itulah ‘lisan’ kita. Walaupun nggak berhadap-hadapan secara langsung, kita harus punya etika juga lho. Nggak pas deh rasanya, jika dalam keseharian kita sudah menjaga tutur kata dan sikap, tapi giliran di dunia maya kita nyinyir. Menulis status/tweets pedas, menghujat, merendahkan dan menyindir pihak lain. Entah sadar atau tidak, entah bertujuan untuk kepuasan diri atau sekadar cari sensasi, alangkah baiknya yang kita tulis di status/tweet/ komentar, adalah hal-hal yang bermanfaat dan tidak menyakiti orang lain.
Sepakat kaan?

7.      Banyakin doa yuk!
Saat hati sempit, saat masalah melanda, saat berpuasa, bahkan saat dilimpahi kebahagiaan pun kita dianjurkan untuk banyak berdoa. Yup, sejatinya berdoa itu senjatanya orang mukmin. Allah pun takkan mengecewakan orang yang berdoa dan tak mengabaikannya sedikitpun. Bahkan Dia selalu mendengar dan mengijabahnya. Dikabulkannya doa bisa menjelma dalam berbagai bentuk. Bisa disegerakan permintaan kita, disimpan di akhirat, diganti dengan yang lebih baik, dan dihindarkan kejahatan.
Salman Al Farisi mengatakan bahwa Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah malu jika seorang telah mengangkat tangannya meminta kebaikan, lalu ditolak dengan kecewa.” (HR Ahmad)
Nah, karena puasa itu melesatkan doa-doa, maka seringlah berdoa meminta kepada-Nya. Mintalah didekatkan dengan kebaikan, dipermudah melakukan kebaikan, diterima semua amal, dimudahkan semua urusan, keistiqomahan dalam sabil-Nya, kecukupan rizki halal, terjaga dari dosa dan maksiat, dan lain-lain.
Selain berdoa untuk kebaikan diri, alangkah baiknya kita juga mendoakan orangtua, kerabat, saudara, tetangga, dan pemimpin dalam kebaikan. Sebab malaikat juga akan mengamini dan doa itu kembali pada kita.
Siap kan, sob?

8.      Membersihkan jiwa dengan istighfar dan dzikrullah
Tanpa disadari, kita selalu menumpuk dosa setiap hari. Seperti menabung, sedikit demi sedikit, dosa menjadi bukit. Bukit dosa? Oh, no! Padahal sekecil apapun, dosa tetap saja mengotori. Dosa wajib dibersihkan secara berkala yaitu dengan istighfar.
Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, bertaubatlah kamu kepada Allah dan mintalah ampun (istighfar) kepadanya. Sesungguhnya aku sendiri beristighfar dalam sehari seratus kali.” (HR Muslim)
Istighfar bisa dilakukan kapan saja. Bisa sehabis shalat, saat menempuh perjalanan, bahkan setiap saat sembari mengingat dosa-dosa, baik yang disengaja ataupun tidak.
Selain istighfar, ibadah utama adalah dzikrullah-mengingat Allah. Orang-oang yang saat duduk, berjalan, dan berbaring dengan tetap mengingat-Nya, menjadi trending topic pembicaraan penduduk langit. Mereka memuja dan memuliakan ahli dzikir. Allah pun selalu mengingatnya.
Sobat, dalam mendawamkan dzikir kadang kita merasa sangat berat. Seolah kita disibukkan dengan urusan dunia yang nggak pernah kelar. Adaa aja urusannya. Padahal kita tahu banget keutamaan dzikir dan beratnya timbangan dzikir di akhirat. Sebagian dari kita berdalih bahwa konsisten dzikir saja susah, apalagi menghadirkan hati. Nah, itulah tantangan kita, guys. At least, kita mencuri-curi waktu agar bisa berdzikir. Apalagi saat puasa. Yakin deh kalau udah terbiasa, kita akan merasakan kenikmatannya.
Allah Swt berfirman, “Orang-orang yang beriman dan hati menjadi tenteram karena mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar Ra’du: 28)
Suatu hari saya pernah tersentil saat menyaksikan video kartun anak muslim. Di sana ada lirik lagu seperti ini:
Muslim itu slalu ingat Allah, dalam perkataan perbuatan
Bila memulai pekerjaan yang baik, maka ucapkan bismillah
Dan bila mengakhirinya, ucapkanlah alhamdulillah
Bila melihat pemandangan yang indah, maka ucapkan subhanallah
Bila berbuat suatu kesalahan, yang diucap astaghfirullah
Itulah semua kalimat thayyibah, diucapkan di setiap keadaan
Bila kita mengingat Allah
Allah akan mengingat kita...
So, yang diingat nggak cuma jadwal nonton bola, acara televisi, atau gadis cantik adik kelas ya, hehehe.
Daaan, ini nih yang bikin kita merinding. Ya, saat membayangkan hari yang sangat berat di Padang Mahsyar. Ketika matahari didekatkan  di atas ubun-ubun. Ketika tubuh gemetaran menanti keputusan. Ketika malu menenggelamkan para pendosa dalam keringatnya sendiri, maka ada 1 di antara 7 golongan yang akan dilindungi Allah pada hari yang tiada perlindungan selain-Nya. Siapakah dia? Dialah orang yang berdzikir kepada-Nya di kala sendirian hingga kedua matanya mencucurkan air mata (HR Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ahmad)
Allahu Akbar! Semoga kita semua termasuk golongan umat ahli dzikir. Aamiin.

9.      Berakrab ria dengan Al Qur’an
Rasulullah saw diutus-Nya ke muka bumi dengan misi memperbaiki akhlak yaitu akhlakul karimah. Ketika ‘Aisyah ra ditanya, “Bagaimana pendapat anda tentang Rasulullah?” ‘Aisyah pun menjawab, “Dia adalah Al Qur’an.” Ya,Rasulullah bagaikan Al Qur’an yang berjalan. Itu artinya akhlaknya sebagus dan sesempurna Al Qur’an.
“Kami tidak menurunan Al Qur’an kepadamu agar kamu menjadi susah.” (Thaha: 2). Namun, Al Qur’an adalah rujukan utama, sumber inspirasi, hikmah, ketenangan, dan penuntun langkah kita ke jalan yang lurus.
Dr. Aidh Al-Qarni menyampaikan nasihat indah untuk kita. “Dekatlah selalu dengan Al Qur’an, baik dengan menghafalnya, membacanya, mendengarnya, atau memahami ayat-ayatnya. Sebab itu merupakan terapi paling mujarab untuk menghilangkan sedih dan cemas. (hal.70)
Di era modern saat ini, banyak jalan menuju Roma, eh maksudnya banyak jalan untuk mendapat informasi dan mengkaji ilmu yang bersumber dari Al Qur’an. Seiring maraknya aplikasi-aplikasi yang bisa diunduh via gadget. Hal itu bisa kita ambil manfaatnya. Misalnya dengan bergabung dalam komunitas ODOJ (one day one juz). Selain memotivasi kita untuk selalu dekat dengan Al Qur’an, dalam grup ODOJ bisa juga sharing ilmu, serta mendapatkan saudara-saudara seiman dengan visi yang sama. So, punya gadget keren jangan cuma buat main game online ya. Hihi.

Fyuuh, alhamdulillah nggak kerasa 9 jurus sudah dipaparkan di atas. Semoga bisa diambil manfaatnya ya. Capek? Boleh rehat sebentar sembari kita bermuhasabah. Betapa ilmu Allah seluas samudera, bahwa syari’at Allah yang paling sempurna, bahwa ampunan dan kasih sayang Allah tak terbatas. Allah sangat memahami keterbatasan hamba-Nya sebab manusia memang tak ada yang sempurna. Namun, perlu diingat bahwa manusia telah diamanahi-Nya sebagai sang khalifah, pemakmur bumi, yang insya Allah mampu mengembannya di pundak.
Semoga dengan rahmat dan cinta-Nya kita mampu menyempurnakan rukun iman ketiga, dengan sebaik-baik amalan hingga mendapat gelar takwa seperti yang Dia janjikan.
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah: 183)
Semua kita semua dikategorikan-Nya sebagai hamba yang memperoleh kemenangan. Aamiin yaa robbal ‘alamiin.

Referensi:
Yudisia, Sinta. 2013. Kitab Cinta dan Patah Hati. Penerbit Indiva.
Asti, Badiatul Muchlisin. 2010. Para Pencuri Shalat. Penerbit Oase Qalbu.
Al Baidhani, Sanad bin Ali. Ali bin Nayif Asy-Syuhud. Dr. Aidh Al-Qarni. 2009. Jangan Bimbang (terj.). Penerbit Indiva. 

*artikel ini diikutkan dalam kontes blog #THRRAMADHANSALE bersama shopee

Komentar

Wahyu Widyaningrum mengatakan…
Kenapa ya Mbak, aku merasa masih banyak dosa gitu hikss... baca postinganmu kok malah terharu mengharu biru. Menjaga hati, menjaga apapun itu. Berat ternyata ya, heheheh. Terimakasih teah diingatkan. Semoga ramadhan kali ini lebih membuat aku berpasrah diri. Amin
Junaidi Net mengatakan…
Dengan penuh keringat Akhirnya 9 jurus terpelajari, namun kayaknya sulit untuk dikuasai ilmu ini. Apalagi bagi kaum adam.. Seperti saya.. Wes embulah. Beruntung lah.. bagi mereka yang sudah menguasai jurus ini.. Dah saya capek habis berrjurus jurusan.. Mo melanjutkan perjalanan menuju Roma... Hek Hek Hek..

Postingan populer dari blog ini

Ngumpul Seru Sekeluarga di Angkringan Mbah Dharmo

Assalamualaikum man teman,
Hari Minggu tanggal 24 Desember 2017 lalu, pertama kalinya kami mengunjungi Angkringan Mbah Dharmo di Ambarawa. Beberapa bulan lalu, saat saya lewat jalan lingkar di malam hari, ada kerlip lampu dari kejauhan. Indah banget. Saya pikir tempat itu semacam cafe alias tempat nongkrong kekinian gitu. Rasa penasaran saya terjawab sudah ketika adik saya mengajak kita semua ke sana. Agendanya ngumpul bareng. Syukuran ulangtahun adik ipar , juga anniversary pernikahan adik yang kelima plus rencana mau memberi kejutan buat ibu. Haha paket lengkap alias all in deh. Mother’s day memang sudah lewat dan kamipun nggak merasa harus merayakan hari ibu. Cuma sesekali ingin memberikan semacam penyegaran buat ibu dari pusingnya membuat raport kurtilas. Hehe.

Kami datang sekitar jam 10.30. Dari jalan lingkar, kami memasuki jalan menuju lokasi. Kanan kiri berupa hamparan sawah. Sebagian padi menguning siap dipanen. Sebagian lainnya baru saja tumbuh dengan warna ijo royo-royo yang …

Menghafal Qur’an beserta Artinya dengan Metode Al Jawarih

Assalamu'alaikum teman-teman, Menjadi ‘hafidz/hafidzah’ tentu impian dan harapan umat muslim ya. Kalaupun diri sudah tidak merasa mampu dan efektif untuk menjadi penghafal (mungkin karena faktor U hehe), tentunya kita berharap bahwa anak kita bisa menjadi hafidz/hafidzah. Aamiin.
Dalam mewujudkan impian untuk ‘menjadikan’ anak salih salihah yang tak sekadar hafal qur’an, tetapi juga memiliki akhlak Al qur’an, artinya sebagai orangtua kita harus mengupayakan dengan doa dan ikhtiar yang panjang. Sebab tak ada cara instan. Semua membutuhkan proses. Saya sering menemukan dalam sebuah buku bahwa pendidikan anak dimulai dari saat pencarian jodoh. Sebab anak berhak untuk memiliki ayah dan ibu yang solih/ah dan cerdas. Baru setelah menikah dan terjadi kehamilan, pendidikan selanjutnya adalah di dalam kandungan. Setelah si bayi lahir, pendidikan itu terus berlangsung hingga meninggal. Never-ending-chain dalam belajar ya. Pada suatu kesempatan, perumahan kami kedatangan tamu yaitu ustadz Irf…

Resensi Buku 'Andai Aku Jalan Kaki, Masihkah Kamu Selalu Ada Untukku?' @Buletin Pustaka