Langsung ke konten utama

Grojogan Sewu, Napak Tilas 30 Tahun Lalu

pintu masuk ke Grojogan Sewu

Assalamualaikum man teman,

Travelling sudah menjadi gaya hidup, bahkan ada yang menisbatkan sebagai kebutuhan. Slogan ‘kurang piknik’ yang sempat nge-hits itu seakan mengindikasikan kalau jalan-jalan atau travelling adalah hal membahagiakan yang membuat seseorang tidak mudah stress dan emosian. Dengan bepergian, tinggalkan sebentar rutinitas yang membuat lelah biar otak tak lagi sepaneng, syaraf-syaraf mengendur. Hasilnya hidup lebih rileks dan hepi. Ya kalau dianalogikan seperti komputer yang bekerja terus-menerus hingga berpotensi nge-hang. Harus direfresh biar seger. Hehe.

Namun begitu, travelling bukan satu-satunya solusi saat sumpek, lelah, dan bete. Mungkin kurang dzikir, kurang tilawah, dan kurang syukurnya. Ups! Jadi malu saya. Kadang secangkir teh panas, setoples kecil camilan, dan sebuah novel mampu membangkitkan goodmood. Apalagi plus dipijitin dan dimasakin mi kuah telor sama suami tercintah. Ahaha. *kode

Ngomongin soal jalan-jalan nih. Tanggal 10 Desember 2017 lalu, kami bersepuluh jalan-jalan ke air terjun Grojogan Sewu. Eh, bersepuluh itu terdiri dari saya, suami, tiga anak, dua ortu, adik, sama bapak ibu mertua. Bapak ibu mertua pas datang dari Padang, trus weekend nginep di Ambarawa. Karena bapak saya ada agenda ke Solo, jadi kami sekalian mau cari wisata di sekitar Solo.

Destinasi awal memang mau ke banyak tempat. Mampir PGS dan sebagainya. Namun dalam hidup selalu ada ekspektasi beserta realitanya yang sering nggak kompak. Berangkat dari rumah udah jam 9 an. Ditambah insiden ATM ketinggalan jadi harus putar balik. Tapi kemanapun tujuan pikniknya itu, intinya harus dinikmati. Ya perjalanannya, ya suntuknya di mobil berjam-jam, ya macetnya, ya anak-anak yang rewel. Itulah the art of travelling. Sepakat kan?

wefie setelah berhasil menaklukkan seribu seperempat anak tangga 

Siang itu kota Solo asli terik banget. Panas menyengat. Setelah silaturahim ke rumah teman bapak, lanjut shalat duhur dan makan soto sapi yang seger banget. Aduh, lupa deh nama warung makannya. Setelah makan siang, setel GPS menuju Tawangmangu yang letaknya di Kabupaten Karanganyar. Perjalanan masih sekitar 2 jam dari kota Solo. Semakin ke sana, cuaca mulai mendung, gerimis, dan hujan. Deras pula.

“30 tahun yang lalu bapak ibuk terakhir kesini sama kamu pas balita.” Ibu mengenang. Saya ingat saat buka buka foto album kenangan masa kecil saya. Ada foto bapak ibu muda tengah menggendong balita perempuan dengan background air terjun. Wah keren. Saya jadi makin penasaran karena belum pernah sekalipun napak tilas ke Tawangmangu.

“Hmm, pasti sudah banyak berubah. Udah beda jauh sama yang di foto,” gumam saya.

my parents n me

Saya terbangun ketika sudah hampir sampai di lokasi. Mobil berjalan menanjak di tengah guyuran hujan. Jalan berkelok-kelok seperti memutari gunung. Ya memang ini terletak di lereng gunung Lawu. Berkali-kali hati dag dig dug saat berpapasan dengan kendaraan yang turun dari arah berlawanan. Di bawah sana hamparan pemandangan indah terbentang, andai tak tertutup kabut. Kios-kios makanan dan penginapan berjajar di sepanjang jalan. Bus-bus pariwisata parkir. Kami berbelok lalu parkir di dekat deretan penjual souvenir. Alhamdulillah hujan turun rintik-rintik. Kami menyewa 4 buah payung dari seorang ibu paruh baya. Payung-payung yang kami gunakan itu tertera nama ‘RITA’. Mama mertua yang bernama sama dengan yang tertera di payung, tertawa geli. Kok ya pas sekali.

Kami bersepuluh berjalan menuju lokasi air terjun. Melewati lapak-lapak pedagang pakaian, souvenir, dan oleh-oleh. Para pedagang tak henti menawarkan dagangannya. Kami memutuskan lanjut saja meski hujan semakin deras.


Ah, sampailah kami di pintu masuk bertuliskan sambutan selamat datang. Setelah membayar tiket seharga 17500 rupiah per orang, kami dan belasan orang pengunjung lain mulai menuruni anak tangga satu per satu. Anak-anak tangga itu dari batu. Licin sekali saat hujan. Ditambah saya nggendong bayi gendut dan mengenakan sandal yang sama sekali nggak support di medan seperti ini. Anak-anak tangga itu pendek-pendek tapi memutar dan terus memutar turun seolah tak berujung. Memang ada pondok untuk tempat peristirahatan, namun rasa penasaran semakin membuat saya ogah berhenti sebelum lihat air terjun secara live. Saya juga penasaran dengan mitos jembatan pemisah yang ada di dekat air terjun. Menurut kepercayaan, kalau ada sepasang muda mudi (noted: pacaran) yang melewati jembatan keramat itu, hubungannya bisa kandas alias putus di tengah jalan. Entah benar apa nggak. Lagian siapa suruh belum halal udah jalan bareng. Ehh

suasana dekat grojogan

Oh ya, rupanya daya tarik air terjun ini adalah perjuangan untuk sampai ke sana. Medannya itu loh luar biasa melelahkan. Ibu saya ngilu tulangnya karena capek dan kedinginan. Mama mertua saya juga menggigil karena nggak bawa jaket. Hujan seperti nggak ada tanda-tanda mau berhenti. Ditambah lagi ini sudah masuk waktu asar. Timing yang nggak tepat untuk wisata outdoor. Memang kami kurang pagi datangnya padahal cuaca unpredictable. Harusnya emang nge-mall aja kalau hujan-hujan gini. Hehe. Tapi kepalang basah, kami tetap harus liat air terjun dong ya. Semangat saya terbit saat mendengar suara gemuruh. It means posisi kami udah dekat dengan air terjun setinggi 81 meter itu.
ngeyup sejenak sebelum melanjutkan pendakian

Nah, benar saja. Dari anak tangga terakhir air terjun terlihat samar. Konon, masyarakat menamai Grojogan Sewu karena debit air yang terus deras sepanjang tahun meski musim kemarau. Rindangnya pepohonan dan hujan membuat view air terjun tak tampak jelas dari saya berdiri. Lagipula kera-kera bersliweran kesana-kemari seakan nguntit. Eh geer amat yak. Wkkk. Kera-kera itu mengingatkan saya pada kenangan buruk saat ke Bali dulu. Mereka adalah makhluk liar yang tetap saja membuat kita melipatgandakan kewaspadaan. Hiii.

Kamipun shalat asar di mushola terdekat. Air wudhunya sukses membuat gigi gemeletuk. Ada kolam renang di dekat air terjun. Anak-anak merengek minta renang segala. Ya ampunn. Tentu saya nggak ngijinin anak-anak berenang dalam kondisi cuaca seburuk ini.

mama papa mertua kedinginan

Sudah semakin sore. Pengunjung sudah banyak yang pulang. Lapak-lapak yang menjual sate kelinci, sandal, dan mie rebus sudah kukutan dari tadi. Betapapun inginnya kami lihat air terjun, tetap tak memungkinkan. Jalan licin, hujan semakin menggila, kabut memutih. Suasana sudah sangat sepi dan horor. Tak mungkin juga untuk berfoto ria. Badan kami sudah menggigil hebat. Mungkin kami rombongan terakhir yang meninggalkan lokasi. Jalan menanjak. Anak-anak tangga batu melingkar lingkar seakan tanpa ujung. Penangkal hujan hanya payung. Pakaian kami basah kuyup. Tenaga kami lunas. Ada rasa takut menyelinap saat menyapu pandang ke sekitar. Pepohonan setinggi belasan meter menjulang, bahkan kami melihat satu pohon besar tumbang. Langit memutih. Sesekali kilat menyapa meruntuhkan mental kami. Bahkan kera-kera liar tak satupun yang nampak. Mereka memilih tempat yang nyaman dari tempias hujan. Saya ingat bahwa tadi ada papan bertuliskan himbauan untuk berhati-hati terhadap longsor. Yaa Allah rasanya campur aduk tak karuan. Kami hanya terus melangkah dengan lirih dzikir, semoga kaki kisut dan perih ini sampai di atas dengan selamat tak kurang suatu apapun.

jalanan menanjak nan licin

Daan... tadaaa! Papan hijau itu yang membuat kami sumringah dan lega luar biasa. Ya, kami berhasil menaklukkan 1250 anak tangga! Pantas saja serasa nggak sampai-sampai. Alhamdulillah, beberapa menit kemudian kami sudah kembali ke pintu masuk. Hujan pun sudah agak reda. Setelah mampir di lapak pedagang kain, kami menempuh perjalanan pulang.

hurrayyy sampai juga di lokasi awal

Fyyuhh! Sungguh heroik perjalanan panjang tadi. Ketika orang tidur nyenyak atau makan bakso panas atau menyeruput wedang jahe, kami malah mengobral diri di alam terbuka.
“Jauh-jauh ke Tawangmangu mung cuma mau hujan-hujanan,” kelakar ibu disusul geerr, tawa di dalam mobil.

“Tapi asli. Ini pengalaman unforgetable banget. Bisa buat diceritain ke anak cucu. Haha.”


Ya, hari ini kami memiliki cerita luar biasa. Cerita napak tilas yang sayapun bahkan sama sekali belum punya memory tentang tempat itu. Cerita yang penuh makna dan pelajaran tentang sabar dan syukur, meski sampai di rumah kami langsung tepar dengan baluran count*rpain di badan. Alhamdulillah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghafal Qur’an beserta Artinya dengan Metode Al Jawarih

Assalamu'alaikum teman-teman, Menjadi ‘hafidz/hafidzah’ tentu impian dan harapan umat muslim ya. Kalaupun diri sudah tidak merasa mampu dan efektif untuk menjadi penghafal (mungkin karena faktor U hehe), tentunya kita berharap bahwa anak kita bisa menjadi hafidz/hafidzah. Aamiin.
Dalam mewujudkan impian untuk ‘menjadikan’ anak salih salihah yang tak sekadar hafal qur’an, tetapi juga memiliki akhlak Al qur’an, artinya sebagai orangtua kita harus mengupayakan dengan doa dan ikhtiar yang panjang. Sebab tak ada cara instan. Semua membutuhkan proses. Saya sering menemukan dalam sebuah buku bahwa pendidikan anak dimulai dari saat pencarian jodoh. Sebab anak berhak untuk memiliki ayah dan ibu yang solih/ah dan cerdas. Baru setelah menikah dan terjadi kehamilan, pendidikan selanjutnya adalah di dalam kandungan. Setelah si bayi lahir, pendidikan itu terus berlangsung hingga meninggal. Never-ending-chain dalam belajar ya. Pada suatu kesempatan, perumahan kami kedatangan tamu yaitu ustadz Irf…

Resensi Buku 'Andai Aku Jalan Kaki, Masihkah Kamu Selalu Ada Untukku?' @Buletin Pustaka

Resensi Novel MAHSI: Belajar Bijak Mengelola Cinta