![]() |
SMSBunda |
I.
LATAR BELAKANG KEBIJAKAN PEMERINTAH
Pemerintah dinas kesehatan
provinsi Jawa Tengah mempunyai visi dan misi terkait dengan upaya penurunan
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Visi tersebut adalah
‘Menuju Jawa Tengah sejahtera dan berdikari’ dalam bidang kesejahteraan
politik, ekonomi, budaya, dan kepribadian. Sedangkan Misi yang terkait dengan
program kesehatan dan kesejahteraan mencakup dua poin, yaitu:
1.
Mewujudkan kesejahteraan rakyat yang
berkeadilan, menanggulangi kemiskinan dan pengangguran, dengan berfokus pada
kesehatan rakyat. Dalam hali ini pemerintah memberikan jaminan dasar kesehatan
dan mengutamakan masyarakat berpenghasilan rendah, lansia, dan berkebutuhan
khusus.
2.
Peningkatan kualitas pelayanan publik untuk
memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Berdasarkan data survey tahun 2010-2015, kasus AKI, AKB,
dan AKBA (angka kematian balita), khususnya termasuk tinggi di provinsi Jawa
Tengah. Jika dikaji lebih dalam, masalah berasal dari berbagai faktor seperti
tenaga kesehatan, tempat persalinan, usia ibu hamil, pola konsumsi, gaya hidup,
pencemaran, makanan, juga ketersediaan vaksin dan obat-obatan.
Pada kasus neonatal, kasus terbesar yang sering ditemukan
adalah karena BBLR (berat badan bayi rendah) sebanyak 39,53%. Untuk kasus
penyebab kematian bayi dan balita, faktor lain-lain menduduki peringkat yang
paling besar setelah diare, ISPA, campak, dan DBD. Sedangkan penyebab kematian
ibu, lain-lain menduduki peringkat terbesar setelah hipertensi, pendarahan,
gangguan sistem peredaran darah, dan infeksi. Sebanyak 58% ibu meninggal saat
nifas dan 82% meninggal saat dirawat di rumah sakit.
Betapa mirisnya saat menyimak data-data di atas.
Pemerintah menetapkan kebijakan operasional untuk
menurunkan AKI dan AKB yaitu dengan memperhatikan tentang anemi ibu hamil, ibu
hamil KEK, gizi, stunting, mutu pelayanan kesehatan, sistem rujukan, serta KB
dan kesehatan reproduksi.
Edukasi tentang ketahanan pangan bagi ibu hamil,
bayi/balita, anak usia sekolah, remaja, dan pasangan usia subur diwakili dengan
sosialisasi tumpeng gizi seimbang yang mencakup terpenuhinya karbohidrat, serat
(buah dan sayur), protein (hewani dan nabati), dan susu yang kesemuanya sesuai
dengan jumah takaran yang dibutuhkan oleh tubuh.
Saat ini sedang digalakkan pula program 1000 hari pertama
kehidupan yaitu dimulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Itu
berarti 270 hari di dalam kandungan dan 730 hari adalah 2 tahun pertama setelah
lahir. 1000 hari tersebut adalah masa-masa penting bagi ibu dan buah hati yang
akan menentukan kesehatan untuk jangka waktu setelahnya. Ada 3 poin penting
yang harus dilakukan oleh ibu hamil, nifas, dan neonatal, juga pelayanan untuk
bayi, sebagai berikut:
1.
Pemeriksaan kehamilan, meliputi konseling,
pelayanan KB, PKRT
2.
Persalinan, nifas, dan neonatal, meliputi buku
KIA, kelas ibu hamil, fe dan asam folat, PMT untuk ibu hamil, dan TT ibu hamil
3. Pelayanan bagi bayi, meliputi inisiasi menyusu
dini (IMD), vit K, rumah tunggu, kemitraan bidan dukun, KB paska persalinan,
dll.
Tak luput dari program menekan angka AKI dan AKB,
diselenggarakan juga sosialisasi untuk remaja putri dan calon pengantin,
diantaranya penundaan usia perkawinan, pemberian TTD, dan kampanye gizi
seimbang.
![]() |
tumpeng gizi seimbang yang harus dipenuhi oleh ibu hamil, nifas, dan menyusui |
Secara garis besar, program pemerintah dalam upaya menekan
AKI dan AKB mencakup :
1.
Memperkuat peran lintas program dan lintas
sektor dalam menurunkan AKI dan AKB
2.
Integrasikan pelayanan KB, kesehatan reproduksi
remaja dengan pelayanan kesehatan/ kebidanan berkesinambungan
3.
Setiap fasilitas pelayanan kesehatan wajib
meningkatkan universal access dan coverage untuk KIA dan KB
4.
Intervensi prioritas untuk mengatasi kematian
utama ibu dan bayi
5.
Kabupaten/ kota agar mendorong persalinan nakes
di fasilitas kesehatan
6.
Meningkatkan akses pelayanan emergensi di poned
dan ponek
7. Setiap fasilitas pelayanan kesehatan wajib
meningkatkan mutu pelayanan melalui perizinan dan akreditasi
8. Peningkatan kerjasama dengan perguruan tinggi,
LSM, dan pengembangan publik privat dalam penurunan AKI dan AKB
9.
Pendampingan mahasiswa program kesehatan
terhadap ibu hamil.
II.
TENTANG KEMATIAN IBU
Yang dimaksud dengan KEMATIAN IBU
dalam konteks bahasan kali ini adalah kematian seorang perempuan yang terjadi mulai saat kehamilan sampai dengan 42 hari setelah berakhirnya
kehamilan oleh sebab apa pun kecuali karena kecelakaan dan trauma. Berdasarkan fakta yang telah terjadi di
lapangan, di Indonesia 213 ibu meninggal dalam seminggu. Itu berarti ada 30 ibu
meninggal dalam sebulan. Dan ada 1 ibu meninggal dalam satu jam. Sungguh
tragis, bukan?
Jika ditelisik lebih jauh, faktor-faktor yang menyebabkan
ibu meninggal secara umum adalah 1. Terlambat mengenal tanda bahaya dan
mengambil keputusan 2. Terlambat mencapai fasilitas kesehatan 3. Terlambat
mendapat pelayanan di fasilitas kesehatan.
Beberapa penyebab kematian ibu lainnya adalah aborsi yang
tidak aman, pertolongan persalinan tidak oleh petugas kesehatan terlatih, unmeet need keluarga berencana, penyebab
di luar jangkauan kesehatan (infrastruktur, energi, transportasi, air bersih,
budaya), serta penyebab tidak langsung misalnya anemia, cacingan, dan kurang
gizi.
Berdasarkan data dari Sumber Direktorat Bina Kesehatan Ibu
Kementerian Kesehatan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2012 dan Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, resiko kehamilan usia remaja
(15-19 tahun) memiliki resiko bahaya seperti:
1.
Merupakan 4,5 kali kehamilan beresiko tinggi
2.
Preeklamsia 2,5 kali lebih berpeluang terjadi
3.
Kerusakan otak janin dan gangguan tumbuh kembang
bayi akibat kekurangan yodium
4.
Partus macet / Obstucted Labor
5.
Disproporsi panggul dengan kepala janin / Cephalo pelvic disproportion
6.
Malposisi janin
7.
Kontraksi rahim tidak optimal
8.
Kelahiran prematur
9.
Bayi lahir dengan berat rendah (dibawah 2500
gram)
1. Resiko kematian 2x lebih besar
1.
Pernikahan anak usia <19 2-8="" mempunyai="" risiko="" span="" tahun="">x lebih besar untuk
tertular penyakit menular seksual.19>
Terkait dengan artikel
di atas, penulis mendapatkan sampel kasus dari tetangga kampung. Sebut saja
namanya A. Saat melahirkan anak pertama, ada yang tidak beres dengan
kandungannya sehingga harus bersalin lewat operasi caesar. Belum ada satu
tahun, si ibu kembali hamil dan lagi-lagi harus mengalami operasi caesar untuk
kedua kalinya. Kondisi bayi kedua dan sebelumnya tidak terlalu sehat. Tenaga
kesehatan pun sudah mewanti-wanti agar si ibu ber-KB saja atau memberi jarak
beberapa tahun pada kehamilan berikutnya. Namun, belum sembuh luka bekas
operasi, beberapa bulan ibu A kembali hamil. Si ibu bersikeras mempertahankan
kandungannya meski tenaga kesehatan sudah berulang kali menyatakan bahwa hal
ini sangat berbahaya bagi kedua belah pihak (ibu dan bayi). Kekhawatiran itu
terbukti. Beberapa minggu setelah ibu A melahirkan anak ketiga lewat operasi, beliau
mengalami pendarahan hebat dan berujung pada kematian.
Dari kasus di atas,
hendaknya kita bisa mengambil hikmah yaitu pengetahuan yang komprehensif
tentang kehamilan, persalinan, neonatal, dan bersedia mematuhi anjuran dari
tenaga kesehatan demi kebaikan dan keselamatan bersama.
III.
TENTANG KEMATIAN BAYI
Dalam kasus kematian bayi, kematian terbanyak terjadi sebelum usia 1 bulan/ masa neonatal (SDKI 2012). Sedangkan data dari Riskerdas tahun 2007, penyebab kematian
bayi dan balita adalah asfiksia, BBLR, infeksi, dll.
Masa neonatal
adalah masa yang masih riskan bagi ibu dan bayi. Kedua belah pihak tengah
beradaptasi dengan perubahan.
Penulis mendapatkan
sebuah kasus kematian bayi dengan ibu B selaku narasumber. Kematian bayi ibu B
adalah kematian anak kedua. Pada awalnya, beliau mengikuti program hamil
(promil) sebab anak pertama sudah berusia belasan tahun dan ingin mendapat
momongan lagi. Promil tersebut berhasil sehingga ibu B hamil. Tenaga kesehatan
memastikan bahwa si ibu dan bayi dalam kandungan kondisinya baik dan sehat di
awal kehamilan. Hal itu dibuktikan dengan periksa rutin tiap bulan dan hasil
USG. Tenaga kesehatan menyarankan agar ibu B banyak beristirahat, tidak boleh
terlalu lelah, dan kurangi aktivitas di malam hari. sebaliknya, ibu B berprofesi
sebagai pedagang yang sejak dini hari sudah harus ke pasar memasok barang
dagangan. Ibu B kurang mengindahkan saran dokter sebab beliau merasa
kehamilannya kuat dan fit sehingga beliau beralasan bisa tetap beraktivitas
seperti biasa. Sayangnya, kenyataan berkata lain. Saat persalinan, keadaan bayi
berwarna pucat kebiru-biruan dan tidak segera menangis. Tenaga medis memberikan
tindakan kepada sang bayi. Namun, sayang dalam kurun waktu 1 x 24 jam sejak
dilahirkan, sang bayi tidak dapat tertolong.
Berdasarkan kasus
di atas, kita kembali belajar bahwa kondisi ibu saat tidak hamil dan saat hamil
tidak sama. Ibu hamil memiliki hak untuk lebih banyak beristirahat dan rileks
demi kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi itu sendiri.
Terkait dengan
meningkatnya AKI dan AKB dalam kurun waktu terakhir ini, usaha-usaha berikut
ditempuh oleh kemenkes dalam kesehatan ibu, neonatal, dan anak dengan merujuk pada
1000 hari pertama kehidupan, diantaranya:
1.
Revitalisasi
UKS meliputi penguatan kelembagaan TP UKS, penjaringan kesehatan siswa &
pemeriksaan berkala, penggunaan rapor kesehatan
serta penguatan SDM Puskesmas.
2.
Revitalisasi/
reposisi Posyandu meliputi penguatan kelembagaan POKJANAL, Transformasi Buku
KIA – KMS, penguatan kader Pos Yandu, serta PMT Balita – pelayanan kesehatan di
PAUD.
3.
Jaminan
Mutu KN lengkap meliputi konseling ASI eksklusif, pelayanan KB pasca persalinan,
pemberian MP ASI, serta immunisasi BCG dan Hepatitis B.
4.
Jaminan
mutu ANC terpadu meliputi rumah tunggu kelahiran, persalinan di fasilitas kesehatan,
konseling IMD & KB pasca persalinan, serta penyediaan buku KIA.
5.
Konseling
Pra-nikah meliputi GP2SP –pekerja perempuan, pemberian imunisasi dan TTD, konseling KB pra marital, serta konseling
gizi seimbang.
6.
Penundaan
usia perkawinan meliputi penambahan puskesmas PKPR, Pemberian tablet tambah darah,
serta pendidikan kesehatan reproduksi di Sekolah.
IV.
SMS BUNDA
• Tentang Sms Bunda
Sms Bunda adalah salah satu program dari
Jhpiego (an affiliate of John Hopkins
University) yang bekerja sama dengan Indonesia dalam rangka meningkatkan
akses pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi sehingga Ibu dan Bayi Selamat
& Sehat. Di Indonesia sendiri sudah dicanangkan buku Kesehatan Ibu dan Anak
(buku KIA) yang berisi segala informasi yang lengkap tentang kehamilan,
persalinan, masa neonatal, hingga tumbuh kembang bayi dan balita.
![]() |
buku KIA |
Selain itu
juga sudah diadakan kelas ibu dan posyandu di lingkungan rt rw. Sms Bunda memanfaatkan
teknologi mobile untuk menyelamatkan ibu dan bayi di Indonesia secara gratis. Sms Bunda merupakan layanan SMS yang memberikan informasi kesehatan
bagi ibu hamil dan nifas, sampai anak mencapai usia 2 tahun (1000 hari
kehidupan pertama). SMSbunda mengirimkan informasi kepada ibu langsung
ke telepon genggamnya.
· Latar Belakang
Saat ini Indonesia adalah negara
dengan tingkat kematian ibu tertinggi di Asia Tenggara. Begitu juga dengan
tingkat kematian bayi baru lahir (usia 0-28 hari) tergolong tinggi. Saat ini
jumlah kematian bayi baru lahir adalah 60% dari keseluruhan kematian bayi di
bawah usia 1 tahun dengan tingkat ketahanan hidup bayi baru lahir yang tidak
mengalami perbaikan sejak 2002. Sebagian besar kematian ini sebenarnya dapat
dicegah dengan penanganan yang tepat selama kehamilan, persalinan, dan paska
melahirkan. Data menunjukkan walaupun mayoritas wanita di Indonesia menerima
perawatan antenatal selama kehamilan, hanya sekitar 53% yang mendapatkan
informasi mengenai tanda-tanda komplikasi kehamilan selama kunjungan.
·
Tujuan:
1.
Pengetahuan ibu meningkat
2.
Ibu dapat mengidentifikasi tanda bahaya selama hamil
dan nifas
3.
Ibu dapat mencari pertolongan tepat waktu
4.
Pengingat jadwal kunjungan ibu, bayi dan imunisasi
· Cara mendaftar SMS Bunda
Ketik SMSBunda kirim ke 08118 469
468
Atau
REG (Spasi) Perkiraan Tgl Bersalin (Spasi) Kab/Kota
REG 05/02/2016 SEMARANG
kirim ke: 08118 469 468
· Contoh sms yang pernah penulis terima dari
layanan SMSBunda
“Selama hamil, bunda tetap
melakukan aktivitas fisik sehari-hari sesuai dengan saran bidan/dokter.
Pastikan bunda cukup istirahat.”
“Bunda bersaa suami dan anggota
keluarga lain, baca dan pahami buku KIA untuk diterapkan. Jika ada yang kurang
jelas, tanyakan pada bidan dan dokter.”
![]() |
· Untuk lebih memahami apa itu SMS Bunda,
silakan akses sosial media SMS Bunda
Twitter : @SMSbunda
Fanpage : SMSbunda
Instagram : @smsbunda
Website : www.smsbunda.or.id
Hari ini, lebih dari 230,000 orang telah mendaftar SMSbunda. Semakin banyak ibu/suami/keluarga yang mendaftar SMSbunda, maka semakin banyak ibu dan
keluarga yang mendapatkan manfaat SMSbunda sehingga Semakin banyak ibu, bayi dan anak yang sehat dan
selamat.
Mari kita dukung
program ini sehingga AKI dan AKB dapat ditekan secara signifikan.
(oleh: Arinda Shafa)
*blogpost ini
diikutkan dalam lomba blog SMSBunda dengan tema "Upaya Menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru
Lahir melalui SMSBunda" yang terselenggara atas kerjasama antara Blogger Gandjel
Rel dengan Jhpiego (an affiliate of Johns Hopkins University) dan Aliansi
Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang.
Komentar